Kata-Kata Mutiara Orang Terkenal

Kata Kata Mutiara - Apa sih arti kata mutiara ? mungkin dalam benak Anda menanyakan itu. Kata mutiara sendiri memang sulit untuk di pahami, yang jelas ketika kita membaca Kata Kata Mutiara Bijak perasaan kita akan tergerak dan hati akan tergugah.

Kiat Menghafal Al-Quran

Mulai menghafal dari satu mushaf, tidak berganti-ganti. Karena inilah di antara sebab yang membuat kita cepat lupa. Perlu diketahui bahwa ketika kita telah menghafal satu halaman mushaf, maka kita biasanya akan bergantung dan ingatan kita akan selalu mengarah ke lembaran yang telah kita hafal.

1000 Kebaikan Dalam Sehari

“Bagaimana salah seorang di antara kami bisa menghasilkan seribu kebaikan?”. Beliau menjawab, “Yaitu dengan bertasbih (membaca subhanallah) seratus kali, maka dengan itu akan dicatat seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.”

Tuntunan Puasa DiBulan Rajab

Ini pesan dari seseorang: "Tgl. 22 mei kita msuk awal bulan rajab. Barang siapa puasa 2 hari d awal rajab seakan ibadah 2 thn . Barang siapa mengingatkan org lain ttg ini seakan ibadah 80 thn." Bagaimana puasa khusus di Bulan Rajab?Apakah ada tuntunan? Adakah dalil yang mendukungnya?

Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan

Flash Fiction #6 : dia lebih sabar dari aku?

“aku mau kita putus!” seru Wiera. Dadanya sesak. Ini adalah keputusan terberat yang pernah ia lakukan. Rasa sayangnya pada Varen belum berkurang sedikitpun tapi ia cukup tahu diri untuk tidak melanjutkan hubungan yang selalu dimimpi-mimpikan Wiera.

Varen—pemuda yang membuatnya menjadi tak karuan. Varen—pemuda yang membuatnya dia dimabuk cinta. Varen—pemuda yang Wiera anggap sangat cuek bahkan lebih ketidakpeduli. Itulah alasan kuat Wiera memilih pilihan terberat itu.

“sudahlah, jangan memaksakan sebuah hubungan. Pacaran itu terjadi apabila ada dua orang bukan hanya seorang.” Kata-kata itu membuat keberanian Wiera mengatakan satu kalimat penuh sesak itu. Selama ini, ia juga teman-temannya menganggap Wiera tidak dalam status berpacaran. Bagaimanalah bisa disebut pacaran jika komonikasi terputus? Bukan LDR, kelas Varen hanya berseberangan dengan kelas Wiera. Apakah susah mengajak bicara?

Wajah Varen berubah. Matanya memperlihatkan kekejutannya. Tapi, mulutnya terkunci. Padahal Wiera ingin tahu apa yang ingin diucapkan Varen sebagai ‘pesan terakhir’ mungkin. Ia ingin tahu apakah Varen masih peduli untuk mempertahankan hubungannya dengan adanya perubahan atau malah senang karena terputus dari ikatan yang memang tak penting bagi Varen.

“aku minta maaf kalau selama ini aku punya salah sama kamu.” Kata Wiera—yang akhirnya menyerah menunggu Varen membuka mulutnya hanya untuk mengatakan ‘kenapa’. Dan ia menyerah berharap Varen mencoba agar Wiera menarik kata-katanya yang telah terbang tinggi.

“aku juga minta maaf—“ jawab Varen pelan—mungkin masih shock dengan perkataan Wiera atau entah oleh apa.

Weira membuang muka. Sesak di dada Weira semakin menjadi-jadi. Sekarang, ia malah dalam keraguan yang besar. Bisakah ia bisa terbiasa dengan cepat tanpa Varen. Padahal sebelum ini Varen selalu muncul dalam benaknya, pikirannya, dan tentu hatinya.

“aku pulang duluan ya.” Kata Varen.

Weira menatapnya sejenak. Menangguk pelan. “ya.” Samar-samar kukatakan kata terakhir untuknya.

Varen membalik. Weira dapat melihat dengan jelas punggung Varen. Weira cepat-cepat menuju balkon lantai dua sekolahnya. Ia melihat Varen yang mengambil sepedanya. Weira berharap Varen menoleh ke atas. Entah kenapa, Weira ingin sekali Varen menoleh ke arahnya dan mengembangkan senyum atau melambaikan tangan padanya.

***

“We. Kamu putus sama Varen? Kenapa?” Tanya Hirai.

“kamu tahu sendiri kan?” Weira menjawab dengan malas. Ia sudah menjawab
pertanyaan itu berkali-kali.

“We. Aku mau kasih tahu satu hal sama kamu. Menurutku, Varen itu bukannya
nggak peduli sama kamu.” Hirai menunduk—merasa bersalah terlambat mengatakan hipotesisnya.

Weira menoleh—menatap tajam Hirai.

“apa pernah Varen marah sama kamu? Apa pernah Varen nunjukkin kalau dia cemburu?”

“enggak. Apa dia peduli? Bukannya itu tandanya kalau dia malah nggak peduli sama sekali. Mau aku sama siapa bagi dia nggak masalah. Bukannya itu enggak peduli namanya?” sangkalku pada Hirai.

“kamu hobi banget deh mikir jangka pendek. Kalau dilihat dari sisi lain, dia lebih sabar daripada kamu lho. Emang kamu enggak deket sama mantan kamu di twitter? Bukannya kamu malah sering mention dia daripada Varen? Kalau Varen cowok normal, pastilah dia cemburu. Tapi dia nggak pernah ngomong kan? Nggak pernah ngambek? aku kadang memperhatikan Varen. Kadang-kadang dia ngalamun juga hadap kelas kamu sekilas sih—“

Weira mencerna kata-kata Hiari. ‘Varen lebih sabar daripada aku. Berarti dia malah jauh terluka daripada dia’. Tapi… “aku enggak pernah lihat dia gitu. Yang sering aku lihat dia terlihat sangaaaattt baik-baik saja.”

“yang tak nampak bukan berarti tidak ada bukan?”

“kesimpulannya Varen itu sabar banget sama kamu. Sabar itu tanda perhatian bukan?”

***

Dear dairy,
Sekarang sudah tepat setengah tahun aku putus sama Varen. Tapi, aku masih sering memikirkanmu Ren. Sampai sekarang aku belum tahu hipotesis Hiari itu benar atau enggak. tapi, aku percaya. Dan aku minta maaf sebesar-besarnya kalau memang begitu keadaannya. Sungguh, aku nggak pernah tahu. Varen, maaf ya kalau selama ini aku enggak peka. Varen maaf—aku masih sayang kamu. Tapi aku tahu diri kok. Kenangan indah itu memang lebih pantas menjadi kenangan bukan untuk dikenang. Jika itu harapmu, aku juga akan berusaha mewujudkan harapanmu terwujud.
Aku sayang kamu, tapi maaf Ren. Aku ingin nggak ketemu kamu. Kenangan indah memang untuk dikenang tapi kesedihan untuk dilupakan bukan?
25-02-2012

Flash Fiction #5 : kenangan terindah yang paling menyakitkan

dulu, sering kali aku merindukanmu, merindukan senyummu, merindukan tawamu, merindukan candamu, merindukan suaramu, merindukan wajahmu, merindukan kata-katamu, merindukan perhatianmu dan semua yang kau bawa.

Dulu, sering kali aku berpikir, ‘kapankah kau akan kembali? Masih bisakah aku mendapatkan perhatianmu lagi?’. Tapi, aku hanya sekedar bertanya-bertanya pada diri sendiri.

Dulu, aku sering sekali menatap timelineku yang penuh dengan kata-kata norak. Seperti there’s no day without missing you, kamu perginya lama ya? Haruskah aku mencari yang lain? Kamu sudah lupa sama aku ya? When you’re gone, it always hurts me. Don’t go away from me.

Aku sadar, semua ini menyakitkan. Semua ini hampir membuatku menjadi orang gila. Orang gila yang bukan hanya kehilangan jiwa tapi juga kehilangan hati—hati yang selalu kamu bawa pergi, tapi aku tak tahu hatiku masih kamu simpan atau sudah terbuang.

Seandainya saja dahulu aku tidak egois. Seandainya saja, dulu aku lebih bisa sedikit mengertimu. Mungkin kamu tidak akan pergi secepat itu. Sekalipun kamu akan pergi, aku selalu berharap saat itu hatiku telah ada padaku dan aku akan segera memberikan hatiku untuk oranglain. Tapi, sayang tidak semudah itu prosesnya.

Perjalanan yang hanya empat jam ini sungguh sangat menguras pikiran karena setiap detik aku selalu mengingatmu. Entah kenapa bayang-bayangmu tiba-tiba mengahantuiku, dengan terpaksa film-film pendek lima tahun yang lalu itu terputar kembali tanpa bisa dihentikan di tengah cerita.

Lima tahun yang lalu. Aku masih mengenakan seragam putih abu-abu kebanggaanku, bukan blus kerja seperti yang aku pakai saat ini. Saat itu aku sedang di duduk di taman sekolah, seperti yang selalu aku lakukan—menyendiri. Sering kali aku merilik jendela di depanku. Lewat jendela itu aku selalu melihatnya latihan. Awalnya aku hanya memperhatikan, mengagumi permainan gitarnya dan entah oleh apa aku mulai tidak bisa dipisahkan oleh kebiasaan kecil itu—melirik jendela. Tapi, aku belum cukup menyadarinya saat itu.

Beberapa hari berlalu, aku tetap melakukan kebiasaan itu. Tapi tentu saja hanya sekedar melirik ke jendela sesaat kemudian tenggelam lagi ke novel yang aku bawa. Tanpa aku sadari ternyata selama ini seseorang yang aku perhatikan lewat jendela itu juga sesekali memperhatikan aku. Aku baru menyadarinya setelah tujuh belas hari kebiasaan itu melekat dalam diriku.

Pada hari ke tujuh belas itu, aku masih duduk di bangku taman. Mataku masih asyik dengan kata-kata yang berputar-putar di otakku tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Mau tak mau aku menoleh, kontan saja mulutku membentuk huruf o kecil dan mataku membulat. Tapi, seseorang yang duduk di sampingku itu membalas tatapanku—yang aku yakini sungguh aneh itu—dengan senyuman paling indah yang pernah diberikan padaku.

“hai.” Sapanya

“hai juga. Ada perlu apa?” tanyaku. aku gugup sekali saat itu dan jika dia tidak punya maksud apa-apa aku akan pergi dari bangku itu.

Dia menaikkan kedua alisnya. “nadamu terlihat tidak suka. Hmm… atau kamu gugup?” ada senyuman jahil yang menghias kedua pipinya.

“eh?” apa dia indigo? Bisa membaca pikiran orang lain? “aku tidak gugup, apa aku perlu gugup?” tanyaku.

Dia tertawa kecil mungkin menertawai aku yang sungguh tidak ada bakat membohongi orang lain. “kenapa sendirian?”

“memang kenapa? Ada masalah?” aku tidak tahu benar atau tidak, tapi yang aku rasa dia lebih cenderung bertanya ‘kenapa sendirian? TIDAK PUNYA TEMAN?’

Wajahnya terlihat bersalah. “sorry, aku tidak bermaksud begitu. Sorry ya Tan—“

Mataku membulat lagi. “kamu tahu namaku?” bagaimana pula dia tahu namaku, aku saja yang terus-terusan memperhatikannya tidak tahu namanya.

Dia tersenyum. “Tania bukan? Kurasa kamu tidak tahu namaku ya?”

Aku meringis. “tepat sekali.”

Dia mengulurkan tangan kanannya yang sedari tadi ia masukkan ke saku jaketnya. “namaku Yovan.”

Aku menatapnya sekilas, kemudian mengulurkan tangan kananku, menggenggam tangan seseorang yang sudah tujuh belas hari ini mengisi hatiku.

Semenjak perkenalan itu, sering kali setelah ia latihan dia selalu menemaniku di bangku taman. Aku bahkan sampai lupa kalau tadi aku sedang membaca novel dengan konflik yang indah. Dia seolah mengisi seluruh ruang di otakku.

Dan pada hari ke seratus tujuh puluh satu semenjak perkenalan itu. Dia mengeluarkan pertanyaan yang sungguh tak pernah aku duga. Kalimat tanya yang sering di putar di sinetron-sinetron yang selalu membuatku ingin muntah. Tapi, ketika aku mendengar kalimat itu ia ucapkan untukku, aku tidak muak mendengarnya malahan aku serasa dibawa terbang ke taman bunga angkasa dengan sayap superman.

“maukah kamu menjadi pacarku?” dia menyodorkan coklat—coklat paling manis yang pernah ada.

Aku tersenyum saat memoriku kembali hadir menyapaku. Itu adalah kenangan terindah. Kenangan terindah yang paling menyakitkan.

Empat jam sudah berlalu, aku akan segera kembali ke duniaku. Dunia yang penuh kesibukan sehingga tidak waktu untuk memikirkan Yovan—my first love. Dan dengan kesibukanku itu aku masih bertahan untuk tidak menjadi orang gila.

Flash Fiction #4 : kerinduan pada kecemasan

Kerinduan pada kecemasan

Kecemasan selalu hadir menemani setiap langkah-langkahku, menemani bayanganku yang tergeletak bersembunyi di belakang tubuh tubuhku ketika kamu menjadi bagian dari hidupku. Kecemasan jikalau hatimu bukanlah untukku lagi.

Sekarang, aku merindukan kecemasan itu. Kecemasan jikalau hatimu bukanlah untukku lagi. Aku rindu untuk merasakan kecemasan itu. Itulah kecemasan paling indah setelah aku bukanlah bagian dari hidupmu lagi.

Kerinduan pada kecemasan saat-saat menantimu di tempat aku bisa melihatmu bersendaugurau dengan teman-temanmu, tertawa-tawa riang. Sebagai balasan, aku tersipu malu dengan rona merah muda di kedua pipiku.

Aku rindu, rindu sekali pada kenangan itu. Kau tahu, sesekali aku menyempatkan diri mendatangi tempat itu dengan hati yang sangat berat ketika memori-memori indah berputar-putar di kepalaku, tujuanku datang ke sana hanya agar aku bisa melihatmu tertawa-tawa riang dengan teman-temanmu. Tapi, kamu tak pernah ada di sana lagi. Dan kenangan itu memang hanya pantas untuk dikenang bukan untuk diulang kembali.

Ketika kamu pergi menjalankan tugas dari sekolah, aku selalu menanti dengan penuh kecemasan. Lagi-lagi yang aku cemaskan hanya karena jika hatimu tak lagi kau berikan padaku sepulang kau dari sana.

Kini, aku tak pernah lagi berharap-harap cemas menunggumu. Tapi, kini aku rindu. Aku rindu akan kecemasan itu. Kecemasan terindah.

Pangeranku, sungguh aku rindu pada kecemasan-kecemasan itu. Aku rindu merasakannya lagi. Meski aku tak tahu kepada siapa kau berikan hatimu kini, tapi aku akan merindukanmu dan akan tetap menantimu. dengan kenangan-kenangan yang pernah kita buat, aku akan tetap bertahan

Flash Fiction #3 : merindukanmu

selalu saja terasa sepi saat dirimu entah dimana. tidak ada detik di mana aku tidak menengok handphoneku. tiada detik dimana aku berharap handphoneku berbunyi nyaring. tiada detik aku berharap-harap cemas menunggu sms dari seseorang yang selalu aku rindukan kehadirannya.

saat aku merindukanmu, aku tak mampu mengungkapkannya terang-terangan padamu. aku tak mau beban pikiranmu bertambah karenaku. aku tak mau membebanimu. aku tak mau senyummu padam karenaku.lagi pula, kamu juga punya kehidupan sendiri. kehidupanmu belum menjadi kehidupanku kan? aku tak berhak merubahmu menjadi seorang yang selalu bersamaku.

jadilah seperti hari ini, aku hanya berdiam diri menatap ponselku yang tidak seperti harapanku, tidak ada bunyi nyaring, tidak ada pesan masuk.

aku ingin sekali mengirimkanmu pesan hanya untuk bertanya bagaimana kabarmu. tapi, aku takut mengganggumu.

keesokan paginya di sekolah. sering kali aku melirik ke arah jendela tanpa memperhatikan guru yang sibuk dengan ceritanya. aku bukannya berharap kamu tiba-tiba ada di jendela, tersenyum lebar ke arahku. mungkin saja memang, tapi kemungkinannya 1 : 10.000.000.000.000.

bagiku, jendela itu pengubung antara aku dan dirimu. sungguh, aku rindu saat-saat indah di seberang jendela. dan kini, rinduku sempurna hanya untukmu. rinduku sempurna memanggil-manggil namamu, menyuruhmu untuk datang kembali. tapi, aku tidak akan heran jika kau menganggap itu angin berlalu.

aku tahu, aku bukan siapa-siapa. aku bukanlah orang yang setiap kali bisa duduk di sampingmu sambil mendengarkan kau memainkan gitar. aku bukanlah gadis yang beruntung yang bisa melihat senyummu setiap aku menginginkannya. aku bukanlah gadis yang bisa setiap kali kau ajak berbicara, bercanda, tertawa ria. aku tahu, itu bukan aku lagi. tapi, jangan larang aku untuk tetap menunggumu di jendela. jangan larang aku untuk merindukanmu.

merindukanmu adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku. terkadang, merindukanmu membuat mataku mampu tak berkedip menonton film usang di dalam memoriku. terkadang, merindukanmu membuat mataku sembab keesokan harinya. merindukanmu juga bisa mengukir senyuman di bibirku ketika rindu itu terobati meski hanya dengan melihatmu sekilas berjalan melewati kelasku. tapi, bahagiaku tidak hanya sekilas.

terimakasih telah membaca, apabila ada kritik dan saran mohon tinggalkan pesan di post komentar guna memajukan sastra di Indonesia.

Flash Fiction #2 : gerimis yang indah

Langit memang sedang menangis. Ia menumpahkan seluruh air matanya. Tapi, aku bahagia. Bahagia bersama tiap tetes yang jatuh dengan anggun ke bumi.

Bahagiaku berawal ketika bel pulang sekolah berbunyi. Aku bergegas berkemas dengan sudut bibir yang senantiasa terangkat. Aku rapikan kerudung yang menutup auratku dengan sudut bibir yang masih terangkat di depan kaca kelas.

Aku menarik nafas panjang, tersenyum lebih lebar di depan kaca. Aku bergegas menggendong tasku dan melangkah keluar dengan hati berbunga-bunga. Aku bergegas memakai sepatu.

"Aku mau ke kelas VIII D dulu. Tunggu aku." Pesanku pada salah satu teman sekelasku. Aku tak mendengar apakah ia bersedia atau tidak, aku sudah terlanjur melangkah ke kelas yang ada di seberang.

Aku berlarian kecil, menghindari tetesan air hujan semakin banyak mendarat di baju seragamku.

Aku tiba di depan kelasnya. Seketika, gugupku muncul lagi. Aku tidak berani untuk lancang masuk ke kelasnya. Ah... hanya dia yang bisa membuatku jadi selalu salah tingkah. Syukurlah, ada temannya yang keluar kelas. Tanpa perlu kuminta bantuan. Dia sudah berteriak dengan lancang "Fahmi, dicari Syasya."

'apakah tidak bisa pelan sedikit? Aku kan malu.' Kataku dalam hati. Rona merah hinggap di kedua pipiku.

Tidak perlu menunggu Fahmi terlalu lama setelah temannya Fahmi memanggilnya. Ia sudah berdiri di depan pintu dengan senyum mengembang yang lagi-lagi membuat rona merah di pipiku semakin bertambah merah.

Aku segera mengambil flashdisk dari sakuku. Aku memang hanya bermaksud ingin menyerahkan flashdiskku untuk minta software macromedia. Sesudah aku bilang mau minta, satu hari kemudian waktu aku tanya dia lagi apa dia jawab kalau lagi download sofware itu. Aku merasa tersanjung :)

"Makasih ya." Kedua sudut bibirku terangkat sedikit. Perasaan gugup ini membuat kedua sudut bibirku tidak bisa terangkat lebih dari ini.

Fahmi hanya menggangguk sambil tetap tersenyum.

"kamu bawa jas hujan nggak?" tanyaku yang khawatir hujan akan tambah deras. Fahmi bisanya naik sepeda. Jarang sekali ia diantar-jemput, bertolak belakang denganku yang selalu diantar-jemput.

"nggak." jawabnya. Sejujurnya, aku tidak suka jawaban singkat, tapi kenapa kalau itu Fahmi semuanya runtuh, seolah aku tidak pernah tidak menyukai jawaban singkat.

"lha nanti kamu pulangnya gimana?" tanyaku cemas.

"yadooo... yadoooo.... cuittt... cuiiittt..." teman-temanku yang usil berteriak lancang sambil terkikik pelan.

Aku sudah semakin malu. Rona merah di pipiku tadi belum juga samar, sekarang kian bertambah.

"aku pamit dulu ya." aku segera membalikkan badanku, takut kalau Fahmi sampai tahu pipiku semerah kepiting rebus.

Obrolan singkat itu bagiku adalah hal yang terindah dalam obrolanku bersama siapapun. Aku masih ingat benar mimik wajahnya, ulasan senyumnya, sinar matanya saat itu. Kejadian itu terekam dengan baik dalam memoriku dan akan aku simpan dalam peti dengan seratus tujuh belas kunci agar tak ada yang bisa merusaknya.

Mungkin memang aneh jika itu adalah obrolan terindah. Hanya singkat dan padat. Tapi itu adalah obrolan paling panjang antara aku dan Fahmi.

Setiap gerimis datang membuat memori itu terputar lagi. Membuat aku tersenyum bahagia juga bersedih hati 'kapankah akan terulang kembali?'

Flash Fiction

Flash fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek. Walaupun tidak ada ukuran jelas tentang berapa ukuran maksimal sebuah flash fiction, umumnya karya ini lebih pendek dari 1000 atau 2000 kata. Rata-rata flash fiction memiliki antara 250 dan 1000 kata. (Sebagai perbandingan, ukuran cerita pendek berkisar antara 2.000 dan 20.000 kata. Rata-rata panjangnya antara 3.000 dan 10.000 kata.)

Flash Fiction #1 : aku mencintainya

seperti halnya para remaja lainnya, aku mulai menunjukkan sifat keremajaanku. salah satunya menyukai lawan jenis. wajar bukan? bukankah dengan demikian aku termasuk anak yang tumbuh normal? seperti halnya saat ini, hatiku sedang mengalami musim bunga. bunga-bunga tumbuh di setiap ruang hatiku.

ya, tepat tanggal 26 Oktober 2010. pemuda yang aku mimpi-mimpi kan membawa coklat sambil berlari menghampiriku. tanganku separuh gemetar saat melihat dia menyusul langkahku. kakiku terlalu kaku untuk kulangkahkan tapi aku tetap berusaha melanjutkan langkahku untuk menghindarinya.

'jangan hari ini.' kuulangi kata itu hingga ribuan kali sambai dia berhasil membuatku menoleh kebelakang. satu kata yang bisa mewakili seluruh kekacauan yang ada dalam diriku 'gugup'.

aku membulatkan mataku. pura-pura merasa heran dia memanggilku. dia tersenyum manis sekali. bola matanya memancarkan sinar yang semakin membuatku gugup.

"mau nggak jadi pacarku?" tanyanya pelan. bukan lagi gugup yang aku rasa. bahagia tapi bimbang. kata-kata yang baru saja dia ucapkan memang biasa. aku sering mendengarnya di televisi atau teman-temanku sendiri. itu memang kata-kata yang simpel dan pasaran tapi karena yang mengucapkan orang yang sangat spesial bagiku, kata-kata yang baru saja masuk telingaku seolah mempunyai sesuatu yang membuatku jadi merasa mendapatkan seluruh dunia ini.

dia menyodorkan cokelat yang ia bawa. "kalau kamu mau terima ini." katanya dengan suara yang lagi-lagi membiusku.

bimbang. diantara ya dan tidak. sebenarnya, aku mencintainya, dari dulu malah. lebih dari enam bulan sebelum hari ini. tapi, karena aku kurang melihat respon dia aku selalu berusaha melupakan perasaanku ke dia. tapi, perasaan itu tumbuh lagi, tumbuh lagi. dan aku tidak mau menghindar lagi dari rasa itu. aku memilih untuk berteman dengan perasaan itu.

dan tibalah hari ini. sebelum hari ini, aku dan dia sudah tidak sejauh enam bulan yang lalu malah jauh lebih dekat.

aku hanya bimbang karena satu hal. aku takut melukai oranglain. bayang-bayangnya langsung menghapiriku, mengulang kejadian kemarin "aku ikhlas kok, kamu sama dia. jangan mikirin aku, aku baik-baik saja. masih banyak gadis yang lain kan? yang lebih cantik tapi nggak lebih langsing." ingin sekali aku menginjak kakinya, perkataannya itu secara tidak langsung menyindirku tajam. tapi, kakiku lemas, air mata membanjiri pipiku.

"Sya?"
"eh, ya." jawabku mantab.
Dia menyodorkan cokelat yang dari tadi ada di tangannya. senyumnya terlihat mengembang dan wajahnya sangat berseri-seri. akupun begitu. aku bahagia. aku mencintainya.

semenjak itu, hari-hariku menjadi hari-hari bahagia.